+62 831-1968-0369 info@smkahr.sch.id
Senin - Jumat, 07.00 - 13.00
Logo SMK AHR
SMK Ansoruna Hade Rancage Vokasi Agribisnis & Logistik

Ketika Sabar Punya Batas: Refleksi Jiwa Muda dari Siswa ATP SMK Ansoruna Hade Rancage

~ Karya Siswa ~

Sabar yang Punya Batas

oleh Rendi Syahrull Mubarok
Kelas ATP
Katamu kaulah yang paling lelah menahan kaulah yang paling sering mengalah dan dunia pun percaya karena suaramu lebih lantang dari lukaku padahal aku yang diam saat disalahkan aku yang memilih memaklumi setiap sikap yang perlahan mengikis hati aku belajar tersenyum meski berkali-kali dipatahkan belajar memahami meski tak pernah benar-benar dipahami lucunya kesabaranku dianggap biasa sedangkan sekali kau menahan ego kau seolah menjadi manusia paling terluka aku tak pernah meminta dipuji aku hanya ingin satu hal jangan membalikkan kenyataan seolah aku penyebab semua luka jika akhirnya aku memilih pergi bukan karena habis rasa melainkan karena sabar pun punya batasnya dan memaklumi tak seharusnya menjadi alasan untuk terus disakiti biarlah waktu yang menjelaskan, siapa yang benar-benar bertahan dan siapa yang hanya pandai menceritakan dirinya sebagai korban
Foto Rendi Syahrull Mubarok

Rendi Syahrull Mubarok

ATP – Agribisnis Tanaman Perkebunan

SMK Ansoruna Hade Rancage, Purwakarta

Siswa vokasi dengan jiwa literasi yang kuat.

Purwakarta — Menjadi petani muda bukan hanya soal mengolah tanah, tetapi juga mengolah rasa. Rendi Syahrull Mubarok, siswa kelas ATP SMK Ansoruna Hade Rancage, membuktikan bahwa siswa vokasi pun punya kepekaan mendalam terhadap kehidupan.

Puisi "Sabar yang Punya Batas" lahir dari perenungan tentang ketidakseimbangan dalam hubungan. Tentang mereka yang selalu terdengar lebih keras, dan mereka yang memilih diam sambil terus memaklumi—hingga kesabaran itu menemui batasnya.

"Siapa yang benar-benar bertahan, dan siapa yang hanya pandai bercerita sebagai korban?"

Karya ini menjadi bukti bahwa siswa SMK Ansoruna Hade Rancage tidak hanya unggul di bidang pertanian dan logistik, tetapi juga memiliki jiwa literasi yang kuat. Selamat, Rendi! Terus berkarya dan menebarkan inspirasi.